seluruh sekolah di indonesia tak lepas dari daftar pelajaran
dari sekolah dasar kita dijejali berbagai macam pelajaran
dari matematika,bahasa indonesia,bahasa inggris,bahasa daerah,kesenian,
penjas,komputer,ppkn,ipa atau sains dan ips
smp lebih banyak lagi dengan dipisahnya ipa menjadi
fisika dan biologi
dan ips menjadi ekonomi,sejarah,geografi bahkan tata buku atau akutansi
sma atau smk lebih gila lagi,
kimia,sosiologi,anthropologi,kewarganegaraan
yang harus kita kuasai semuanya demi mendapat nilai bagus untuk
menunjukkan kalau kita ini mampu,
namun pada kenyataannya kita semua malah gagal
karena mengejar kesempurnaan,tak satupun yang berhasil
karena kita memang ada lemahnya namun juga ada lebihnya
namun pendidikan negara kita seakan tak mendukung kelebihan kita
karena pendidikan negara kita cenderung generalis,
bukan spesialis seperti negara maju,
maksudnya kita dituntut untuk menguasai secara keseluruhan
dimana kita belum tentu bisa.
padahal dengan spesifikasi materi pelajaran sesuai bakat
lebih menghasilkan manusia yang berkemampuan sesuai
bakat sehingga terjadi proses pembangunan yang menggunakan paham the right man
in the right place.bukan memperkerjakan orang sesuai pekerjaan
yang kosong,yang belum tentu orang itu bisa maksimal di posisinya.
ketika anak yang memiliki bakat di fisika namun tak
bisa masuk kelas ipa karena tak mampu memahami konsep biologi
apakah ini sebuah kesalahan yang begitu mengakar
sehingga kita tak bisa memperbaikinya?
mungkin ini yang membuat indonesia sulit untuk bangkit
karena rakyatnya tak bekerja sesuai bakat dan minatnya
demi sesuap nasi rela mengubur potensi
demi tuntutan jaman merubah arah kemampuan
yang belum tentu kita bisa. . . . . . . . . . .
Labels: MPR(menurut pendapat rizky)


